Sebelumnya, media telah menyoroti sejumlah inisial terduga pelaku PETI di Taopa Utara seperti RF alias AB, KN, GF, MO, dan MD.
Selain itu, seorang cukong berinisial FR diduga mengoperasikan sedikitnya 7 unit excavator di Gio Barat, yang belakangan dikabarkan dipindahkan ke wilayah Lobu.
Dedi memaparkan sejumlah faktor yang diduga membuat penegakan hukum berjalan tidak optimal, antara lain:
Keterbatasan Sumber Daya
- Personel pengawas lapangan minim dibanding luas wilayah.
- Anggaran operasional terbatas.
- Sarana pendukung seperti kendaraan dan perlengkapan lapangan tidak memadai.
Kompleksitas Jaringan PETI
- Aktivitas PETI melibatkan jejaring kuat, termasuk oknum berpengaruh.
- Sebagian masyarakat bergantung pada PETI sehingga penindakan menimbulkan resistensi.
- Pengaruh politik lokal menghambat proses penegakan.
Lemahnya Koordinasi Antarinstansi
- Koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan instansi kehutanan dinilai tidak solid.
- Koordinasi vertikal dengan pusat juga belum berjalan maksimal.
Potensi Konflik Kepentingan
- Dugaan keterlibatan oknum APH.
- Kedekatan pengusaha tambang ilegal dengan sebagian pejabat setempat.
Operasi Penertiban Dinilai Tidak Efektif
Dedi menilai operasi Polhut Dishut Sulteng dan Gakkumhut Sulawesi tidak memberikan efek jera.
“Operasi-operasi itu belum efektif. Tidak menyentuh cukong atau pihak yang membekingi PETI,” tegas Dedi.












