Hampir 70 persen warga di desa matamaling sebegai nelayan tangkap dan 30 persen warga sebagai petani. Terkadang warga yang menjadi petani juga turun melaut untuk menambah penghasilan.
Pertanian sendiri telah menjadi sektor unggulan sebagai mata pencaharian warga.
Sudah dilakukan sejak turun-temurun, mereka menggunakan lahan pertanian untuk menanam ubi, kelapa, cengkeh hingga sayur-sayuran.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama ini. Ubi banggai misalnya setiap panen bisa menghasilkan hingga 20 blek dengan harga jual 100 ribu/blek.
Baca Juga: Jasa Raharja Workshop TJSL 2025, Perkuat Transformasi Program Sosial Berbasis Shared Value
berkat hasil pertanian itu juga masyarakat bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Di sektor laut banyak warga yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan tangkap. Misal nardi salah satu nelayan yang menghabiskan setiap harinya di laut.
Sekali melaut bisa mendapatkan hasil tangkap sebanyak 3 gabus dengan berbagai macam ikan. seperti ikan lalosi, bobara. Yang nantinya akan dijual kepada pengepul. Nilai jualnya sendiri bisa mencapai 3 juta rupiah sekali melaut.
Jika di total selama 1 bulan melaut bisa mencapai 10 kali, 30 juta rupiah dalam sebulan dari hasil penjualan ikan tersebut bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Baca Juga: Aliansi Peduli Lingkungan Sulteng Aksi di DPRD, Bawa Isu Tambang Ilegal Sulawesi Tengah
Perusahaan tambang batu gamping yang akan masuk berpotensi memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, sumber mata air, wilayah pesisir laut dan lahan pertanian warga.
Karena lahan warga sebagian masuk dalam WIUP perusahaan. Ini yang menjadi kekhawatiran warga ketika perusahaan mulai beroperasi.












