Kejadian tragis lainnya terjadi pada Maret 2025. Tiga pekerja bernama Demianus, Irfan, dan Akbar, tewas tertimbun longsor di area penyimpanan tailing.
Kecelakaan tersebut dinilai berkaitan dengan fasilitas tailing yang dikelola PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC) dan PT QMB New Energy Material, perusahaan penyewa di kawasan PT IMIP.
Setelah melakukan pencairan selama berminggu-minggu dengan bantuan puluhan alat berat, tim SAR gabungan hanya menemukan Demianus dan Irfan tanpa jasad Akbar.
Selain kecelakaan kerja yang menjadi fenomena rutin, banjir pun kerap menggenang desa-desa di Kecamatan Bahodopi setiap kali turun hujan.
Banjir menjadi kejadian berulang sejak kehadiran kawasan industri PT IMIP yang berdiri di atas lahan seluas 4.000 hektare di Bahodopi.
Semisal di penghujung 2024, Desa Labota terendam usai daerah tersebut dilanda curah hujan dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: Penertiban PETI Taopa Dipertanyakan Efektivitasnya, Aktivitas Ilegal Diduga Berpindah Lokasi
Laporan BPBD Sulteng saat itu mencatat lima indekos mengalami kerusakan ringan dan ratusan warga mengungsi ke rumah kerabat.
Teranyar pada medio Maret 2025 lalu, air berwarna merah kecoklatan membanjiri kompleks IMIP dan sejumlah desa di sekitarnya.












