Dalam aksi tersebut, massa juga membakar ban bekas serta melempar tomat busuk dan kotoran hewan ke halaman kantor.
Tindakan itu menyebabkan area kantor terlihat kotor.
Amier Sidik juga menyebut dugaan bahwa Livand pernah memasok 42 kaleng sianida yang diduga ilegal ke kawasan Poboya.
Baca Juga: Warga Sulteng Diimbau Tak Panik, Bulog Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng Sangat Aman
Selain itu, ia menuding adanya pengiriman satu unit alat berat jenis excavator ke lokasi aktivitas pertambangan rakyat.
“Ketua Komnas HAM Sulteng pernah memasok 42 kaleng sianida ke Poboya dan satu unit alat berat,” ujar Amier.
Orator lain, Imam Safa’at, turut mengkritik sikap Livand Breemer yang dinilai sering menyoroti aktivitas tambang rakyat, sementara masih banyak persoalan hak asasi manusia lain yang belum tuntas.
Baca Juga: Ribut Soal Tambang Emas, Agussalim Tantang Debat Terbuka Soal Status Dongi-dongi
Menurut Imam, sejumlah korban bencana di Sulawesi Tengah masih tinggal di hunian sementara (Huntara) dan membutuhkan perhatian serius terkait pemenuhan hak mereka.
“Banyak saudara kita korban bencana yang masih tinggal di Huntara dan perlu dibela haknya. Tapi Ketua Komnas HAM Sulteng justru sering mendesak penindakan tambang rakyat,” kata Imam dalam orasinya.












