“Kami sangat mengapresiasi Hannah Asa Indonesia yang telah menjadi mitra penting dalam mendorong pengembangan usaha perhutanan sosial. Mereka tidak hanya memfasilitasi kegiatan workshop, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun jejaring pasar dan kapasitas kelompok usaha di tingkat tapak,” kata Benny.
Ia menjelaskan, sejak 2017, pihaknya melalui program Forest Programme Phase 3 (FP3) telah memfasilitasi pembentukan kelompok perhutanan sosial, usaha perempuan, serta agroforestry.
Dukungan yang diberikan meliputi pelatihan, bantuan alat produksi, sertifikasi produk seperti label halal dan P-IRT, serta promosi lewat pameran lokal hingga nasional.
“Kami telah memfasilitasi kelompok-kelompok di Sigi dan Poso untuk mengikuti pameran seperti Festival Danau Lindu, Festival Danau Poso, HUT Kabupaten Poso, hingga skala nasional seperti Indogreen dan Kehutanan. Selain itu, ada juga dukungan pemasaran digital dan penguatan sertifikasi agar produk mereka bisa lebih kompetitif,” jelasnya.
Baca Juga: Gubernur dan Satgas PKA Bahas Penyelesaian Konflik Agraria di Sulteng, Ini Arahan Anwar Hafid
Namun, Beny bilang, di lapangan masih ditemukan berbagai tantangan, seperti keterbatasan informasi pasar, kapasitas kelembagaan yang belum kuat, serta kualitas dan kontinuitas produk yang belum sesuai dengan standar pasar.
Maka, workshop ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok produk perhutanan sosial di Sulteng serta menjadi momentum penting dalam mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat berbasis pengelolaan sumber daya alam secara lestari.
“Kami harap ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat sinergi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dalam menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga di sekitarnya,” harap Benny.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menuturkan, workshop turut menghadirkan para akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, agregator, serta media untuk bersama-sama memetakan potensi dan tantangan dalam pengembangan HHBK dalam kawasan CBLL.
Baca Juga: DPRD Bahas RPJMD 2025–2029, Usung Visi Wujudkan Wilayah Pertanian dan Industri Maju-Berkelanjutan
“Kami ingin mendorong pemahaman dan jejaring antara kelompok usaha perhutanan sosial dengan pasar dan industri” tuturnya.
Mardiyah berharap, workshop ini bisa menjadi bagian dari perubahan ekonomi lokal agar masyarakat sekitar kawasan hutan memiliki penghidupan yang lebih baik. (*)
Kunjungi Instagram resmi MemoSulawesi.id di sini.












