Sulawesi

Upacara Pompaura Berlangsung di Poboya Palu, Budaya Masyarakat Adat Menolak Bahaya dan Malapetaka

×

Upacara Pompaura Berlangsung di Poboya Palu, Budaya Masyarakat Adat Menolak Bahaya dan Malapetaka

Sebarkan artikel ini
Upacara Pompaura Berlangsung di Poboya Palu, Budaya Masyarakat Adat Menolak Bahaya dan Malapetaka
Masyarakat Adat Poboya menggelar Upacara Pompaura di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu pada Senin, 24 Februari 2025.

Setelah proses penyiraman, ritual dilanjutkan ke tempat kedua, lokasi berjarak beberapa kilometer ke arah timur dari lokasi ritual pertama.

Di sana, masyarakat adat menanam pohon, terdapat juga satu pohon adat yang dihiasi dengan beberapa ketupat sebagai simbol kehidupan, Topembagu Padi (sesajen beras), serta baki berisi wangi panda, kolontigi, bunga putih, dan kondorano.

Masyarakat Adat Poboya menggelar Upacara Pompaura di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu pada Senin, 24 Februari 2025. 4

Ritual ditutup dengan sejumlah pemangku adat duduk bersama dis amping pohon dan melantunkan nyanyian.

Merupakan Tradisi Turun Temurun

Ketua Adat Poboya, Abidin Ripa, menjelaskan, upacara adat Pompaura adalah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat Kaili.

“Tujuannya untuk menolak bala serta memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Harapannya, wilayah tambang emas ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Poboya dan Kota Palu,” ujarnya.

Upacara Pompaura Berlangsung di Poboya Palu, Budaya Masyarakat Adat Menolak Bahaya dan Malapetaka

Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Badan Musyawarah Adat Provinsi Sulawesi Tengah, yakni Hambali, serta Dewan Musyawarah Adat Kota Palu. Selain itu, sejumlah tokoh adat, masyarakat Poboya, dan warga lingkar tambang juga turut hadir dalam ritual tersebut. ***

 

Kunjungi Instagram resmi MemoSulawesi.id di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *