Setelah proses penyiraman, ritual dilanjutkan ke tempat kedua, lokasi berjarak beberapa kilometer ke arah timur dari lokasi ritual pertama.
Di sana, masyarakat adat menanam pohon, terdapat juga satu pohon adat yang dihiasi dengan beberapa ketupat sebagai simbol kehidupan, Topembagu Padi (sesajen beras), serta baki berisi wangi panda, kolontigi, bunga putih, dan kondorano.

Ritual ditutup dengan sejumlah pemangku adat duduk bersama dis amping pohon dan melantunkan nyanyian.
Merupakan Tradisi Turun Temurun
Ketua Adat Poboya, Abidin Ripa, menjelaskan, upacara adat Pompaura adalah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat Kaili.
“Tujuannya untuk menolak bala serta memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Harapannya, wilayah tambang emas ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Poboya dan Kota Palu,” ujarnya.

Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Badan Musyawarah Adat Provinsi Sulawesi Tengah, yakni Hambali, serta Dewan Musyawarah Adat Kota Palu. Selain itu, sejumlah tokoh adat, masyarakat Poboya, dan warga lingkar tambang juga turut hadir dalam ritual tersebut. ***
Kunjungi Instagram resmi MemoSulawesi.id di sini.












