Kondisi tersebut membuat metode ini lebih tepat diterapkan di wilayah Poboya.
“Dengan kondisi geologi di Poboya, tambang bawah tanah justru lebih aman dan disarankan dalam praktik pertambangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Dr. Sukardan menilai metode ini minim risiko terhadap kerusakan lingkungan.
Baca Juga: Wali Kota Palu dan Wawali Pimpin Rapat Evaluasi Percepatan Penurunan Stunting
“Tambang bawah tanah tidak memengaruhi kondisi alam di permukaan karena prosesnya dilakukan di kedalaman. Dengan begitu, hutan lindung atau ekosistem di atas permukaan tidak terganggu,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya penerapan mekanisme pertambangan yang benar.
Pembuatan terowongan horizontal dan vertikal harus disesuaikan dengan kondisi batuan.
Baca Juga: Pemkot Palu Rencanakan Revitalisasi Pasar Inpres Manonda Tahun 2026
“Batuan di Poboya tergolong kuat. Lapisan atasnya berupa aluvial hasil erosi, sedangkan di bawahnya terdapat batuan keras jenis geramik. Dengan kondisi ini, tambang bawah tanah bisa dilakukan lebih aman,” jelasnya.
Dari sisi regulasi, Dr Sukardan menegaskan bahwa metode pertambangan bawah tanah merupakan salah satu yang direkomendasikan secara global.












