“Kami ingin nama besar Hasan Bahasyuan menjadi inspirasi lintas generasi. Beliau memiliki kontribusi besar dalam kemajuan seni dan budaya Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan Fathur Razaq Anwar, The Mangge yang ikut mendukung proyek ini sebagai bentuk kontribusi keluarga besar almarhum Hasan Bahasyuan.
“Kami sangat berterima kasih kepada The Mangge yang begitu antusias dan bersemangat menjalankan proyek ini,” tambahnya.
Proyek ini tidak hanya melibatkan proses rekaman, tetapi juga dikemas sebagai bagian dari promosi budaya dan pariwisata Sulawesi Tengah.
Personel The Mangge, Rian Fauzi, mengungkapkan, ide proyek ini lahir dari keresahan generasi muda yang ingin menjadikan karya Hasan Bahasyuan sebagai warisan budaya tak ternilai.
“Awalnya kami merencanakan 15 lagu, namun saat ini kami mulai dengan tujuh lagu yang sudah selesai diaransemen ulang oleh The Mangge. Ini merupakan tahap awal,” jelas Zul.
Rian juga menyebut proyek ini sebagai bentuk penghormatan terhadap karya Hasan Bahasyuan.
“Kami ingin semangat kebudayaan hidup dalam musik kami. Aransemen baru kami rancang agar bisa menjangkau pendengar lintas generasi,” kata Rian.
Baca Juga: Kementerian P2MI Deklarasi Pencegahan Migran Ilegal dan Anti TPPO di Sulawesi Tengah
Tokoh Pemuda Sulteng, Fathur Razaq Anwar turut menyatakan dukungannya. Ia mengaku terinspirasi usai menyaksikan The Mangge membawakan lagu “Randa Ntovea” dalam acara Semarak Sulteng Nambaso 2025.
“Saya baru menyadari ada cerita dalam lagu itu. Saat saya cek di Spotify, lagu tersebut belum tersedia. Saya lalu menghubungi Om Pai dan menyarankan agar The Mangge menggarap ulang lagu itu. Sulawesi Tengah punya kekayaan budaya dan intelektual luar biasa, tapi masih kurang mendapat perhatian,” ungkap Fathur.












