Sinergi tersebut melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, instansi yang menangani ketahanan pangan, hingga pemerintah desa dan kelurahan.
Menurutnya, informasi mengenai lokasi dan waktu panen menjadi salah satu faktor penting bagi Bulog untuk mempercepat penyerapan hasil produksi petani.
“Kalau ada informasi panen di wilayah tertentu, kami berharap bisa mendapatkan datanya sehingga kegiatan penyerapan bisa berjalan,” katanya.
Baca Juga: Bulog Perluas Distribusi Beras Premium ke Retail Modern, Pastikan Pasokan Aman dan Mudah Diakses
Jusri mengatakan koordinasi lintas sektor juga penting untuk mengantisipasi potensi penurunan harga ketika produksi petani meningkat.
Jika harga gabah masih berada di atas harga pembelian yang berlaku, mekanisme pasar tetap dapat berjalan.
Namun, ketika harga mengalami penurunan dan petani kesulitan menjual hasil panennya, Bulog perlu segera melakukan penyerapan.
Baca Juga: Bulog Perluas Distribusi Beras Premium ke Retail Modern, Pastikan Pasokan Aman dan Mudah Diakses
Saat ini, Bulog Sulteng membeli gabah dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, harga pembelian beras di gudang Bulog mencapai Rp12.000 per kilogram.
Selain gabah dan beras, Bulog Sulteng juga melakukan penyerapan sejumlah komoditas pangan lainnya, termasuk jagung.












